Health

Psikolog Jelaskan Cara Membantu Anak Mengelola Emosi Akibat Kecanduan Media Sosial

Orang tua perlu menunjukkan empati dengan memahami perasaan anak agar sistem emosinya perlahan menjadi lebih tenang

Kota Jambi (KABARIN) - Psikolog Eka Renny Yustisia mengingatkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan pada anak bisa memicu ketergantungan yang berdampak pada emosi tidak stabil, bahkan sampai muncul ledakan amarah saat akses gadget dibatasi.

Ia menjelaskan bahwa paparan konten digital yang terus menerus membuat otak anak terbiasa mendapatkan rangsangan cepat yang memicu rasa senang instan, sehingga sulit beradaptasi ketika aktivitas tersebut dihentikan secara tiba tiba.

"Kondisi ini menjadi tantangan serius karena paparan konten digital secara terus-menerus membuat otak anak terbiasa dengan lonjakan cepat hormon kesenangan dari aktivitas stimulasi tinggi seperti media sosial (dopamin instan)," katanya di Jambi, Senin.

Menurutnya, saat anak langsung dihentikan dari penggunaan gawai, respons yang muncul bisa menyerupai reaksi putus kebiasaan yang memicu emosi kuat seperti marah, menangis, hingga sulit dikendalikan.

Untuk itu, ia menyarankan orang tua tidak langsung melarang secara keras, tetapi lebih dulu memahami emosi anak sambil tetap memberikan batasan yang jelas. Pendekatan ini dinilai dapat membantu anak lebih tenang dan menerima perubahan secara perlahan.

"Kami menyarankan orang tua untuk memvalidasi emosi anak tanpa membenarkan perilaku. Orang tua perlu menunjukkan empati dengan memahami perasaan anak agar sistem emosinya perlahan menjadi lebih tenang. Selain itu orang tua disarankan menerapkan teknik transisi dengan memberikan batas waktu secara bertahap sebelum anak berhenti menggunakan gawai," kata dia.

Eka juga menekankan pentingnya aturan penggunaan gawai yang disepakati bersama dalam keluarga, termasuk waktu tanpa layar yang harus dijalankan oleh semua anggota keluarga agar anak memiliki contoh yang jelas.

Selain itu, anak juga perlu diarahkan ke aktivitas lain yang lebih aktif secara fisik maupun interaktif untuk membantu menyeimbangkan kondisi emosi dan mengurangi ketergantungan pada layar. Orang tua juga diminta lebih selektif dalam mengawasi konten yang dikonsumsi anak agar tidak memicu overstimulasi.

Ia menegaskan bahwa konsistensi dalam pola asuh menjadi kunci untuk membentuk kebiasaan digital yang lebih sehat dan terkendali pada anak.

"Orang tua dapat membantu anak mengelola emosi, sekaligus membentuk kebiasaan penggunaan media sosial yang lebih sehat dengan pendekatan tepat dan konsisten," katanya.

Sementara itu, salah satu orang tua bernama Dewi memilih cara lain dengan mengisi waktu luang anak melalui olahraga panahan. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya mengurangi waktu bermain gawai, tetapi juga membantu anak belajar fokus dan melatih kesabaran.

Pewarta: Agus Suprayitno
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: